Pengembangan dan desain perangkat lunak berorientasi objek saat ini sangat populer. Perbedaan utama antara pemrograman terstruktur dengan berorientasi objek adalah pada pemrograman terstruktur fundamental pembangunan program adalah algoritma. Sedangkan pada pemrograman berorientasi objek menggunakan objek sebagai fundamentalnya. Dalam pengembangan perangkat lunak berorientasi objek, supaya perangkat lunak/source code yang kita buat berkualitas harus memperhatikan kaidah-kaidah seperti reusability, understandability, maintainability dan testability. Reusability adalah kemampuan kode yang kita buat bisa digunakan lagi pada aplikasi lain maupun pada aplikasi itu sendiri. Kode yang kita buat harus mudah dimengerti(understanbility) supaya mudah di maintenace. Selain itu, kode yang kita buat usahakan sederhana(simplicity) sehingga mudah dilakukan pengujian (testing). Nah pertanyaannya sekarang, bagaimana kita mengetahui kualitas kode yang kita buat? Bagaimana cara mengukurnya?
Metrics software merupakan tools yang bisa digunakan untuk mengukur kode yang kita buat dengan berbagai macam tipe pengukuran yang berhubungan dengan sistem, proses atau dokumen terkait dalam perangkat lunak. Metrics membantu dalam melakukan evaluasi terhadap pengembangan dan testing yang perlu dilakukan dalam suatu sistem yang meliputi aspek testability, understandability, maintainability dan reusability. Metrics yang bisa digunakan untuk mengukur perangkat lunak berorientasi objek bisa juga metrik tradisional(pada pemrograman struktural) dan metrik yang khusus digunakakan untuk pengembangan perangkat lunak berbasis objek.
Pada posting ini kami akan membahas paper berjudul “Applying and Interpreting Object Oriented Metrics” yang ditulis oleh Dr. Linda H. Rosenberg. Paper ini membahas tentang Software Assurance Technology Center (SATC) pada NASA Goddard Space Flight Center yang melakukan pendekatan untuk memilih metrics untuk project dengan terlebih dahulu mengidentifikasi atribut yang terkait dengan pengembangan berorientasi objek. Cakupan bahasan tersebut meliputi penjelasan metrik-metrik tersebut, termasuk, cara menghitung dan bagaimana cara membacanya. Kami juga mengambil studi kasus dari tugas Character Graphics pada mata kuliah TPL. Read the rest of this entry »




























